Januari 2013 - Anja Alfa

Senin, 28 Januari 2013

D3 JUGA MAHASISWA UGM
Januari 28, 20130 Comments


                                     ktm halama belakan halaman depan sensor




Dua setengah tahun sudah berlalu, aku menyandang gelar mahasiswa Universitas Gadjah Mada (UGM) program diploma. Bangga harus tapi menyombongkan diri karena masuk UGM tidaklah harus dilakukan.
Berbalik sebentar, tentang kisah SMA. Aku siswi SMA yang banyak orang mengatakan SMA pelosok. Banyak lah yang mencibir SMAku, membicarakan yang kurang enak didengar bagi aku siswa SMA tersebut. Tapi Alhamdulilah ya, walaupun SMAku pelosok aku sedikit Percaya Diri mengikuti kegiatan di SMA tersebut. Lumayan lah kegiatan tersebut buat pengalaman dan keeksisan aku sebagai siswi, hehe! Beberapa kegiatan perlombaan yang harus bertemu dari siswa-siswi luar sekolah, jujur itu membuat aku sadar bahwa persaingan orang-orang pintar sangatlah banyak. Biar dikata di sekolah lebih tapi di luar bisa jadi aku sangatlah di bawah.
Aku berhasil memasuki kelas favorit, jurusan IPA. Kenapa aku bilang favorit? Ya karena IPA di sekolahanku tersebut cuma satu. Alasan yang masuk IPA bukan karena aku ingin masuk kedokteran, kesehatan, atau yang gitu-gitu, yang ingin aku masuki dunia matematika, aku ingin memperdalam dunia matematikaku. Aku pingin banget masuk matematika UGM, bener-bener harapanku, but I din’t know, I can or can't.
Sampai kelas XII semester 2, pendaftaran beberpa Perguruan Tinggi telah dibuka. Dari yang berprestasi maupun melalui tes, salah satunya UGM. Tapi apa yang aku lakukan, aku menyiayiakan kesempatan mengikuti UM (Ujian Masuk) UGM, karena alesan yang galau, alasenya karena aku bingun aku pingin fokus UN dan lulus, alasan bodoh lainya karena aku gaptek tidak tau gimana cara daftar OL dan kerempongan lainya. Padahal kakak angatan sudah menyarankan aku, apapun yang terjadi ikuti aja UM UGM S1.
Pengumuman kelulusan SMA tiba, dan aku dinyatakan lulus walupun dengan nilai yang sangat membuat sakit di hati. Guru-guru juga menanyakan “kenapa nilainya bisa jelek gitu?” jujur itu membuat aku sangat gelisah dan tidak tau apa yang harus aku jawab. Sesuai keinginanku aku setelah lulus SMA aku harus langsung kuliyah.
Memang penyesalan selalu datang terlambat, ya kalau diawal namanya pendaftaran. Aku benar-benar menyesal sampai detik-detik terakhir aku belum dapat menemukan kelanjutan pendidikanku. Orang tua selalu mengingat untuk segera mendaftar, bapak menyarankan swasta tidak masalah, tapi yang ada dipikiranku bagaimana aku harus masuk negeri yang mungkin biayayanya tidak terlalu mahal dari pada swasta.
Akhirnya aku memilih UM-UGM program diploma gelombang dua, boleh dikata ini adalah seleksi masuk perguruan tinggi negeri terakhir di Jogja. Ketika tes tiba, aku harus bangun bagi dan berangkat jauh lebih awal dari jam ujian, dikarenakan jarak tes dan rumah lumayan jauh. Ketika diperjalan aku terima SMS, yang isinya saran dalam mengerjakan ujian dan intinya jangan asal ngerjain jika memang tidak yakin dengan jawaban. Disana aku benar-benar sendiri tidak ada yang aku kenal, kecuali setelah kita kenalan di lokasi ujian. Banyak diantara mereka yang diantar orang tua, tetapi perinsip aku, aku mau berjuang berangkat tes sendiri dan pengumuman bahwa aku keterima buat hadiah orang tuaku.
Pengumuaman keterima atau tidaknya aku tidak langusng melihat pengumuman, dikarenakan aku harus pergi ke warnet dan malas apabila harus melihat penguman tidak masuknya. Tetapi malam tiba aku bersama adekku pergi ke tempat hotspotan, akhirnya aku membuka website UM UGM dan menerima pengumuman bahwa aku keterima di D3 KOMSI. Kala itu aku disebutkan sebagai mahasiswa Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam. Segera aku mengucapkan syukur pada Allah, dan aku yakin ini yang terbaik. Suatu kepuasan masuk PTN walau D3 karena semua melaui seleksi bukan hanya tingal masuk. Itung-itung sama-sama fakultas MIPA. Ya aku pingin masuk fakultas MIPA jurusan matematika, tetapi aku ikut UM D3 dan keterima di D3 KOMSI (Komputer dan Sistem Informasi).
Pendaftaran ulang dilakukah satu hari setelah hari pengumman. Untung SPMA yang aku isi yang paling kecil, jadi uang yang dicari tidak begitu susah, hehe. Aku harus mintak surat sehat, setelah ibu pulang kerja baru kita ke BTN untuk membayar, kemudian ke GSP. Waktu di GSP aku harus masuk sendiri dan ibu menunggu di luar, aku sebenernya tidak tega melihat orang tua ku susah demi anaknya kuliyah walau cuma D3, tapi kondisi ini alaram pengingat aku kuliyah, bahwa perjuangan orang tua sangatlah berarti buat pendidikan anaknya, dan orang tua selalu mendukung dan berdoa demi kelancaran kesuksesan anaknya. Perjalanan selanjutnya ke KOPMA untuk mengambil jas almameter, wau akhirnya aku bisa memiliki almameter UGM seperti ibuku dulu yang warnanaya sangat klasik menurut aku. Selanjutnya ke MIPA utara, ya daerah ini ibu aku tau, secara kampusnya dulu, di MIPA buat daftar OSPEK PASCAL (Pengenalan Kampus Science Awal Kuliah). Jujur merasa sedikit keheranann aku bisa masuk MIPA yang aku inginkan tapi bedanya yang aku inginkan S1 Matematika ini malah aku masuk D3 KOMSI, tapi aku tetap mensyukurinya.
Setelah memasuki masa bangku kuliyah aku mulai menikmati suasana yang baru yang beda dari suasana sekolah dulu. Semester satu dan dua aku masih merasakan fakultas MIPA. Tetapi mulai semester tiga tiba-tiba aku berubah menjadi fakultas Sekolah Vokasi. Sesuatu yang membuat diri pribadi tidak enak hati, aku masuk karena ingin merasakan menjadi anak MIPA tetapi ditengah perjalan berubah menjadi Sekolah Voaksi.
Lama-lama aku menerima bahwa aku anak SV bukan lagi menjadi MIPA. Menerimanya dengan sesuatu kesenyuman. Tetapi ada kalanya yang membuat aku dan mungkin beberapa anak diploma lain tidak enak di hati. Dimana fasilitas yang kurang puas, jadwal yang sampai malam, dan beberapa fasilitas lain. Ya aku tetap menyukuri, aku mensyukuri dengan cara menggunakan kegiatan atau Unit Kegiatan Mahasiswa yang ada.
Sebelumya aku adalah anak yang sangatlah tidak aktif, malas untuk berpartisipasi, malas memikirnya kegiatan aku kedepan, dan yang jelas malu bertemu orang belum dikenal disuatu acara. Tetapi lama kelamaan aku rendam semua rasa itu, aku berusaha menjadi anak yang tidaklah sangat pemalu. Mengikuti UKM Fakultas, UKM fakultas MIPA masih mau menerima anak diploma dan mereka juga tidak membedakan antara D3 dan S1, aku sangat bersyukur dengan lingkungan ini. UKM Universitas sempat aku mengikuti beberapa bulan, yaitu TGM. Di TGM benar-benar menemukan seleksi hidup, seleksi alam. Kata-kata pelatih yang selalu aku ingat bahwa kalian masuk sini karena kalian mahasiswa UGM dari S1 dan D3. Kalimat lain yaitu D3 juga mahasiswa penting dari sutu jenjang pendidikan, malahan di luar negeri yang dicari D3 itu pengalam ketika dulu pelatih teater berada di sana. Wauw suatu motifasi aku bahwa D3 dengan fasilitas yang kurang berhak mengantungkan mimpi setinggi apapun.
Sekali lagi dari pengalam anak SV aku tetap bangga, walau beberapa anak S1 pernah menjelekan D3. Semua anak D3 maupun S1 adalah mahasiswa UGM yang mempunyai hak sama, pendaftaran di GSP dan wisuda di GSP. Semoga aku diwaktu tepat, cepat waktu, tepat waktu, dan waktu diinginkan bisa mengunakan jubah hitam dan topi segi lima hitam di GSP dan aku persembahkan ke orang tuaku, walau D3 aku tetap mahasiswa UGM yang berhak merasak itu.
Reading Time:
Diberdayakan oleh Blogger.

Bonjour & Welcome

aku hanya manusia biasa yang sedang mencari jati diriku dan kelebihanku

aku berusaha agar dapat membahagiakan diriku dan orang sekitar

Daftar Blog Saya

Halaman

Blogroll

Popular Posts

LATEST POSTS

@way2themes