ktm halama belakan halaman depan sensor
Dua setengah tahun sudah berlalu, aku menyandang gelar
mahasiswa Universitas Gadjah Mada (UGM) program diploma. Bangga harus tapi
menyombongkan diri karena masuk UGM tidaklah harus dilakukan.
Berbalik sebentar, tentang kisah SMA. Aku siswi SMA
yang banyak orang mengatakan SMA pelosok.
Banyak lah yang mencibir SMAku, membicarakan yang kurang enak didengar bagi aku
siswa SMA tersebut. Tapi Alhamdulilah ya, walaupun SMAku pelosok aku sedikit Percaya
Diri mengikuti kegiatan di SMA tersebut. Lumayan lah kegiatan tersebut buat
pengalaman dan keeksisan aku sebagai siswi,
hehe! Beberapa kegiatan perlombaan yang harus bertemu dari siswa-siswi luar
sekolah, jujur itu membuat aku sadar bahwa persaingan orang-orang pintar
sangatlah banyak. Biar dikata di sekolah lebih tapi di luar bisa jadi aku
sangatlah di bawah.
Aku berhasil memasuki kelas favorit, jurusan IPA.
Kenapa aku bilang favorit? Ya karena IPA di sekolahanku tersebut cuma satu.
Alasan yang masuk IPA bukan karena aku ingin masuk kedokteran, kesehatan, atau
yang gitu-gitu, yang ingin aku masuki dunia matematika, aku ingin memperdalam
dunia matematikaku. Aku pingin banget masuk matematika UGM, bener-bener
harapanku, but I din’t know, I can or can't.
Sampai kelas XII semester 2, pendaftaran beberpa
Perguruan Tinggi telah dibuka. Dari yang berprestasi maupun melalui tes, salah
satunya UGM. Tapi apa yang aku lakukan, aku menyiayiakan kesempatan mengikuti
UM (Ujian Masuk) UGM, karena alesan yang galau,
alasenya karena aku bingun aku pingin fokus UN dan lulus, alasan bodoh lainya
karena aku gaptek tidak tau gimana
cara daftar OL dan kerempongan lainya.
Padahal kakak angatan sudah menyarankan aku, apapun yang terjadi ikuti aja UM
UGM S1.
Pengumuman kelulusan SMA tiba, dan aku dinyatakan
lulus walupun dengan nilai yang sangat membuat sakit di hati. Guru-guru juga
menanyakan “kenapa nilainya bisa jelek gitu?” jujur itu membuat aku sangat
gelisah dan tidak tau apa yang harus aku jawab. Sesuai keinginanku aku setelah
lulus SMA aku harus langsung kuliyah.
Memang penyesalan selalu datang terlambat, ya kalau
diawal namanya pendaftaran. Aku benar-benar menyesal sampai detik-detik
terakhir aku belum dapat menemukan kelanjutan pendidikanku. Orang tua selalu
mengingat untuk segera mendaftar, bapak menyarankan swasta tidak masalah, tapi
yang ada dipikiranku bagaimana aku harus masuk negeri yang mungkin biayayanya
tidak terlalu mahal dari pada swasta.
Akhirnya aku memilih UM-UGM program diploma
gelombang dua, boleh dikata ini adalah seleksi masuk perguruan tinggi negeri
terakhir di Jogja. Ketika tes tiba, aku harus bangun bagi dan berangkat jauh lebih
awal dari jam ujian, dikarenakan jarak tes dan rumah lumayan jauh. Ketika
diperjalan aku terima SMS, yang isinya saran dalam mengerjakan ujian dan
intinya jangan asal ngerjain jika memang tidak yakin dengan jawaban. Disana aku
benar-benar sendiri tidak ada yang aku kenal, kecuali setelah kita kenalan di
lokasi ujian. Banyak diantara mereka yang diantar orang tua, tetapi perinsip
aku, aku mau berjuang berangkat tes sendiri dan pengumuman bahwa aku keterima
buat hadiah orang tuaku.
Pengumuaman keterima atau tidaknya aku tidak
langusng melihat pengumuman, dikarenakan aku harus pergi ke warnet dan malas
apabila harus melihat penguman tidak masuknya. Tetapi malam tiba aku bersama
adekku pergi ke tempat hotspotan,
akhirnya aku membuka website UM UGM dan menerima pengumuman bahwa aku keterima
di D3 KOMSI. Kala itu aku disebutkan sebagai mahasiswa Matematika dan Ilmu
Pengetahuan Alam. Segera aku mengucapkan syukur pada Allah, dan aku yakin ini
yang terbaik. Suatu kepuasan masuk PTN walau D3 karena semua melaui seleksi
bukan hanya tingal masuk. Itung-itung sama-sama fakultas MIPA. Ya aku pingin
masuk fakultas MIPA jurusan matematika, tetapi aku ikut UM D3 dan keterima di
D3 KOMSI (Komputer dan Sistem Informasi).
Pendaftaran ulang dilakukah satu hari setelah hari
pengumman. Untung SPMA yang aku isi
yang paling kecil, jadi uang yang dicari tidak begitu susah, hehe. Aku harus
mintak surat sehat, setelah ibu pulang kerja baru kita ke BTN untuk membayar,
kemudian ke GSP. Waktu di GSP aku harus masuk sendiri dan ibu menunggu di luar,
aku sebenernya tidak tega melihat orang tua ku susah demi anaknya kuliyah walau
cuma D3, tapi kondisi ini alaram pengingat aku kuliyah, bahwa perjuangan orang
tua sangatlah berarti buat pendidikan anaknya, dan orang tua selalu mendukung
dan berdoa demi kelancaran kesuksesan anaknya. Perjalanan selanjutnya ke KOPMA
untuk mengambil jas almameter, wau
akhirnya aku bisa memiliki almameter UGM seperti ibuku dulu yang warnanaya
sangat klasik menurut aku. Selanjutnya ke MIPA utara, ya daerah ini ibu aku
tau, secara kampusnya dulu, di MIPA buat daftar OSPEK PASCAL (Pengenalan Kampus
Science Awal Kuliah). Jujur merasa
sedikit keheranann aku bisa masuk MIPA yang aku inginkan tapi bedanya yang aku
inginkan S1 Matematika ini malah aku masuk D3 KOMSI, tapi aku tetap
mensyukurinya.
Setelah memasuki masa bangku kuliyah aku mulai
menikmati suasana yang baru yang beda dari suasana sekolah dulu. Semester satu
dan dua aku masih merasakan fakultas MIPA. Tetapi mulai semester tiga tiba-tiba
aku berubah menjadi fakultas Sekolah Vokasi. Sesuatu yang membuat diri pribadi
tidak enak hati, aku masuk karena ingin merasakan menjadi anak MIPA tetapi
ditengah perjalan berubah menjadi Sekolah Voaksi.
Lama-lama aku menerima bahwa aku anak SV bukan lagi
menjadi MIPA. Menerimanya dengan sesuatu kesenyuman. Tetapi ada kalanya yang
membuat aku dan mungkin beberapa anak diploma lain tidak enak di hati. Dimana
fasilitas yang kurang puas, jadwal yang sampai malam, dan beberapa fasilitas
lain. Ya aku tetap menyukuri, aku mensyukuri dengan cara menggunakan kegiatan
atau Unit Kegiatan Mahasiswa yang ada.
Sebelumya aku adalah anak yang sangatlah tidak
aktif, malas untuk berpartisipasi, malas memikirnya kegiatan aku kedepan, dan
yang jelas malu bertemu orang belum dikenal disuatu acara. Tetapi lama kelamaan
aku rendam semua rasa itu, aku berusaha menjadi anak yang tidaklah sangat
pemalu. Mengikuti UKM Fakultas, UKM fakultas MIPA masih mau menerima anak diploma
dan mereka juga tidak membedakan antara D3 dan S1, aku sangat bersyukur dengan
lingkungan ini. UKM Universitas sempat aku mengikuti beberapa bulan, yaitu TGM.
Di TGM benar-benar menemukan seleksi hidup, seleksi alam. Kata-kata pelatih
yang selalu aku ingat bahwa kalian masuk sini karena kalian mahasiswa UGM dari
S1 dan D3. Kalimat lain yaitu D3 juga mahasiswa penting dari sutu jenjang
pendidikan, malahan di luar negeri yang dicari D3 itu pengalam ketika dulu pelatih
teater berada di sana. Wauw suatu motifasi aku bahwa D3 dengan fasilitas yang
kurang berhak mengantungkan mimpi setinggi apapun.
Sekali lagi dari pengalam anak SV aku tetap bangga,
walau beberapa anak S1 pernah menjelekan D3. Semua anak D3 maupun S1 adalah
mahasiswa UGM yang mempunyai hak sama, pendaftaran di GSP dan wisuda di GSP.
Semoga aku diwaktu tepat, cepat waktu, tepat waktu, dan waktu diinginkan bisa
mengunakan jubah hitam dan topi segi lima hitam di GSP dan aku persembahkan ke
orang tuaku, walau D3 aku tetap mahasiswa UGM yang berhak merasak itu.
.png)
Tidak ada komentar: